Aku Anak Jalanan

 Aku anak jalanan. Biasa berdiri di dekat-dekat lampu merah untuk berjualan tissue. Di kawasan Grogol dan sekitarnya. Sekarang masa pandemik. Tidak banyak orang yang keluar rumah bepergian. Dam tidak banyak pula yang membeli tissue daganganku. Tapi aku harus kuat, menanti dengan sabar. Mungkin, nanti ada Oom atau Tante yang muncul dari balik kaca mobil dingin yang ber-AC. Atau Kakak yang berbaik hati di atas sepeda motor akan membeli tissue daganganku. 

 

Kalian tahu tidak? Di Grogol sini, ada beberapa kampus, universitas besar. Ternama, dengan Gedung yang besar. Ukrida, Trisakti, dan Untar. Sebelum pandemik Covid datang di negara kita, dengan kagum aku melihat kakak-kakak yang bersekolah di sana. Membayangkan dan bermimpi: kapan aku bisa masuk ke Gedung megah tersebut. Akankah ada kesempatan untukku belajar di sana. Aku si Gadis Cilik tak berayah, yang hidup sembarang di jalanan dengan Ibu dan satu orang adik. Seperti apa ya rasanya kuliah? Karena saat ini aku baru bisa merasakan belajar karena kebaikan Kakak-Kakak dari Kampus atau Gereja tertentu. Kata mereka, mereka datang mengajarkan kami materi di sekolah. Mereka punya visi mencerdaskan anak jalanan. Kami belajar matematika, bahasa Indonesia, sedikit bahasa Inggris.

 

Kutanya apa itu Visi? Tapi penjelasan mereka masih sulit kupahami. Mungkin karena usiaku yang masih belia. Baru 9 tahun usiaku kini. Tapi yang aku tangkap, visi itu adalah suatu tujuan yang baik. Mereka datang dengan maksud baik untuk membuat kami anak jalanan menjadi lebih pintar. 

 

Aku menyeruput es doger di plastik yang diberikan Pak Maman. Pak Maman penjual es doger di bawah jembatan busway. Pak Maman baik sekali, dia setiap hari memberikan semangat. “Laku jualannya ya Dik, hari ini. Jangan lupa tersenyum ya Dik.” Tidak setiap hari Pak Maman memberikan aku es doger jualannya. Katanya, “nanti batuk Nak kalau setiap hari minum es.” Ada juga Bu Sulis yang berjualan bakso dan Pak Tukimin yang berjualan nasi goreng. Kadang, mungkin seminggu sekali, mereka memberikan aku dan adik ku sedikit dari jualan mereka. 

 

Kau tahu? Kebaikan Tuhan ada dimana-mana. Kadang ada malaikat-malaikat tak bersayap dikirim Tuhan untuk menolong kita, termasuk bagi kami para anak jalanan. Ada malaikat yang membantu kami melalui kesempatan belajar agar pintar. Atau malaikat yang berbagi kasih dengan memberikan makanan yang layak.

 

Kadang, aku memandang iri. Pada anak-anak yang memiliki ayah dan ibu lengkap. Seperti apa ya rasanya punya ayah? Apakah pelukan dari ayah sehangat pelukan Ibu? Di mana sebenarnya ayahku berada ya? Kutanya Ibu, tapi Ibu hanya tersenyum dan terkekeh. Ayahmu sudah ke laut begitu jawabnya. Aku juga kadang iri pada anak-anak yang keluar dari mall dan digandeng oleh orangtua mereka. Ada yang membawa balon, membawa kantong makanan KFC, Solaria, Hoka-Hoka Bento. Seperti apa ya rasanya makan di mall bersama Ayah dan Ibu? 

 

Tapi kata para Kakak yang mengajar kami bersekolah di kolong jembatan. Tidak perlu iri. Tanpa kita tahu, Tuhan punya maksud yang istimewa menempatkan kita di keluarga tertentu dengan kehidupan tertentu. Aku juga tidak terlalu paham apa maksudnya. Tapi entah mengapa, kata-kata Kakak tersebut cukup melegakan hatiku ketika didengar. Mungkin kalau aku sudah sebesar Kakak itu, aku akan paham. Kulirik tissue jualan di dalam kantong plastic. Masih dua puluh buah lagi yang harus kujual. Semoga ada banyak pembeli hari ini. 

 

“Hay Dik” seru seorang Bapak dari dalam mobil sedan hitam yang berhenti karena lampu merah. “Beli tissue ya, 2 biji.”

Dengan semangat kuhampiri Bapak tersebut. “Ini Pak” aku mengulurkan tangan, sambil melirik memastikan bahwa tanganku cukup bersih.

“Ini” kata Bapak tersebut kepadaku, ia mengulurkan selembar uang berwarna biru.

“Pak, ada uang pas saja? Saya belum ada kembalinya” jawabku.

“Ya sudah, ambil saja. Gunakan yang baik ya, beli makan yang sehat atau ditabung.”

Sulit rasanya menyembunyikan wajah yang berseri. “Terima kasih Pak.”

 

Lampu jalanan berubah dari merah menjadi kuning, lalu berwarna hijau. Aku segera menyingkir ke sisi jalan. Kendaraan kembali lalu lalang, melaju dengan cepat. Kau lihat? Selalu ada kebaikan Tuhan untukku. Tidak setiap hari, karena ada juga hari-hari yang kurasa begitu berat dilalui dan menyesakan hati. 

 

“Terima kasih Tuhan” ujarku dalam hati. “Aku akan menggunakan uang ini untuk beli nasi goreng-nya Pak Tukimin. Untuk makan malam aku, Ibu dan adik. Besok aku akan jajan es doger-nya Pak Maman. Dan lusa beli bakso yang dijual Bu Sulis. Terima kasih telah memperhatikan aku, memberkati aku melalui malaikat yang tidak kukenal. Dan terima kasih aku bisa memberkati balik orang-orang yang sudah begitu baik kepadaku.”

 

Lampu sudah kembali merah. Aku harus menghentikan lamunan-ku ini. Dan mulai berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Kembali menawarkan tissue dagangan ini. “Terima kasih Tuhan. Walau aku tidak punya ayah, tapi Tuhan tetap menjagaku selama hidup di jalan. Dan mengirimkan pertolongan dari orang-orang yang tidak dikenal. Semoga hatiku yang bersyukur ini, akan membuat Tuhan tersenyum. Semoga Tuhan di surga sana tetap memperhatikan aku dengan kasih-Nya selalu. Amin.”

Komentar

Posting Komentar